
Kehidupan selalu menuntut kita untuk terus maju dengan kondisi apapun dan bagaimanapun, konsekuensi yang waktu berikan tidaklah dapat untuk dihadang, apapun yang terjadi tetap harus dijalani tanpa bisa memprotes dan merubahnya. untuk itu kehidupan sangat membutuhkan perencanaan, planning dan konsep agar semua yang dijalankan memiliki pilihan bukan pembiaran kejadian seperti air yang mengalir. Salah satu keadaan hidup yang paling sulit adalah menentukan pilihan, ketika kita dihadapkan pada dua atau beberapa hal yang harus kita pilih, maka disaat itu kita akan kebingungan menentukan mana yang akan menjadi pilihan.
Dalam memilih sesuatu kita mendasari pilihan tersebut kepada feedback yang diberikan oleh apa yang kita pilih, feedback atau umpan balik yang diberikan bisa bermacam - macam, baik itu bermanfaat untuk diri kita pribadi maupun untuk kelompok, baik itu bermanfaat sekali ataupun terus berkepanjangan. jika kita kaji pada kodrat manusia, penciptaanya dilengkapi dengan 2 faktor utama, yaitu Akal dan Nafsu. kedua faktor inilah yang menjadi faktor utama penentu pilihan. seorang manusia akan menggunakan akalnya untuk menelaah opsi - opsi yang akan dipilih, dalam penelaahannya, seorang manusia akan melakukan pertimbangan - pertimbangan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, dia akan membanding - bandingkan kesemua opsi - opsi tersebut dan kemudian baru memasukkan nafsu kedalam pikirannya. dia akan memikirkan apa yang akan dia dapatkan andaikan ini menjadi pilihan, begitu seterusnya.
setelah akal, pikiran dan nafsunya sudah solid, maka muncullah suatu pilihan yang bulat yang akan menjadi prioritas dari semua opsi - opsi yang ada, setelah itu barulah manusia tersebut ingin orang lain membenarkan pilihannya, mendukung apa yang menjadi keputusannya. disinilah, kelicikan manusia bermula, untuk mempertahankan pilihan dan membenarkan apa yang sudah ditentukan segala bentuk argumen, fakta, dan hal lain yang dapat menjadi pendukung pilihannya akan dia gunakan. baik semua itu benar adanya maupun rekayasa. pada keadaan ini, yang berada di garda terdepan adalah taktik, siasat dan kelicikan, manusia tersebut akan bertarung dengan kenyataan agar tidak bersalahan dengan apa yang sudah menjadi pilihan, dan apapun kejadiannya pilihan itu akan dipertahankan.
untuk itulah, keimanan dan faktor religius sangat dibutuhkan dalam menentukan pilihan, karena kodrat manusia pada dasarnya suci namun disertai dengan pengaruh iblis yang akan terus mempersesat jalan, jadi semua kita marilah memilih dan membujuk dengan berdasarkan landasan islam bukan untuk kepentingan pribadi dan nafsu yang akan menjerumuskan banyak orang ke jalan sesat untuk memenuhi keserakahan hidup kita.
Ditulis Oleh :
Master Jems